Jumat, Juli 30, 2010

Lakon di Kota Kecil

INI sebuah kota kecil; semua penduduk di sini saling mengenal. Lebih-lebih di lorong ini. Di lorong ini begitu banyak anak-anak. Dan kita akan temui Sumirah yang cantik. Sumirah yang dicintai penduduk di sekitar sini. Sumirah yang sudah dilamar oleh beberapa pemuda di kampung ini.

Gadis yang cantik ini punya pendirian sendiri.

Seperti sebuah cerita iseng, tiba-tiba ada sebuah perubahan di dalam diri Sumirah. Dan dengan segera penduduk bisa menangkap apa yang biasa dilakukan Sumirah pada malam-malam hari.
“Hanya kecantikan yang saya punyai,” kata gadis ini. Ucapan Sumirah cukup membikin ribut penduduk sekitar sini.

Muncul gosip dan argumentasi. Mereka memperdebatkan itu sepulang kerja, mereka jadi punya keasyikan baru. Apa yang diucapkan dan diperbuat Sumirah mereka simak baik-baik. Seolah-olah mereka takut kehilangan berita tentang Sumirah. Gadis ini mendadak menjadi tokoh sentral. Setumpukan batu-bata jatuh di depan rumahnya.

“Sumirah mungkin mau membangun rumah dengan uang haram,” kata seseorang.

“Dia telah mengotori kampung kita,” kata yang lain.

Masih banyak lagi argumentasi di lorong ini.

Sementara itu rumah Sumirah semakin megah dibandingkan dengan rumah sebelahnya. Seperti sebuah impian saja bagi penduduk di sini. Semakin hari Sumirah semakin muncul seperti putri dalam impian. Orang-orang kampung melihat sebagian dari impiannya datang hanya untuk Sumirah. Setiap ada pertanyaan dari mereka, ucapan Sumirah tetap sama, “Cuma kecantikan yang saya miliki. Dan saya tidak mau pasrah.”

Setiap ucapan Sumirah pasti akan tersebar luas. Dia tokoh yang tiba-tiba muncul dalam kehidupan penduduk kampung yang sederhana ini. Sering ada mobil bagus berhenti di muka lorong itu. Tapi masyarakat di sini menganggap Sumirah sebagai tokoh layar putih yang tidak bisa dihakimi.
Ketika mobil bagus itu tidak datang-datang lagi, penduduk berbondong-bondong ke rumah Sumirah.
“Mengapa dia kini tidak datang lagi?” tanya mereka. “Di rumah ini belum ada TV berwarna. Kan kalau ada, kita bisa ikut menonton.”

“Saya sudah jenuh,” kata Sumirah.

.“Lantas keluargamu makan apa? ‘Kan bapakmu sakit paru-paru?”.

“Pekerjaan saya kan hina, seperti yang sering kalian bilang.”

“Lantas, siapa lelaki muda yang sering-sering ke mari?”

“Dia guru SD.”

“Rugi dong, kalau punya pacar dia.”

Sumirah mengangkat bahu.

Kembali orang-orang kampung melanjutkan argumentasinya. Menurut pendapat mereka, pelacur toh tidak punya jalan kembali. Dan Sumirah dalam beberapa bulan ini sudah hidup mewah dalam takaran orang kampung.

“Dia akan menjadi miskin kembali,” kata seseorang. ” Saya lihat ibunya sudah mulai menjual perhiasannya kemarin.”

“Seharusnya memang ia tidak kembali. Tahu ‘kan itu dosa?”

“Tapi bapaknya sakit. Kamu tahu ‘kan, gaji guru tidak banyak?”

Sumirah rasanya tidak akan kembali ke profesinya. Seperti sebuah dongeng, dia melompat jauh sekali. Dan sekarang nafasnya kembali menjadi surut.

“Sebentar lagi Sumirah akan sama miskinnya dengan kita,” kata seseorang. “Kamu tahu kemarin dia bilang sama ibunya, dia jatuh cinta pada guru itu.”

“Sumirah juga bilang, dia kepingin jadi gadis baik-baik. Menikah dan punya anak,” sambung yang lainnya.

“Kita harus katakan padanya; dia mesti cari duit yang banyak. ‘Kan adik-adiknya perlu sekolah, dan bapaknya perlu perawatan?”

“Saya sudah bilang kepada dia, tapi gadis itu bicara soal cinta melulu. Seharusnya dia tahu, dirinya bukanlah gadis gedongan. Kita di sini lebih butuh mencari makan, daripada soal lain-lainnya. Jangankan menghutangi kita, dia sendiri sudah mulai menjuali barang-barang miliknya. Percuma saja, ‘kan dia jadi gadis paling cantik di sini?”

Tapi kelihatannya Sumirah tetap bertahan dengan prinsipnya.

Lalu pacar Sumirah tidak datang lagi.

“Sudah saya bilang padanya, buat apa dia buang-buang waktu dengan guru muda itu,” seseorang mengomentari.

“Yah, mana ada guru kawin sama pelacur?”

“Tapi Sumirah masih bicara soal cinta melulu. Kemarin lelaki yang punya mobil bagus itu datang lagi. Tapi Sumirah menolak.”

“Apa yang kini bisa kita andalkan lagi? Kemarin saya lihat ibunya menjual radio milik mereka. Saya kira rumahnya juga bakal dijual, kalau dia terus-terusan begitu.”

Orang-orang kampung itu berbondong-bondong datang di rumah Sumirah.

“Kamu ini bagaimana, Sum? Bapakmu sudah masuk rumah sakit, sedang kamu enak duduk-duduk di sini melamunkan cinta. Apakah kamu merasa pasti kalau Guru itu akan menikahi kamu?”

“Ya. Dia cinta kepada saya,” jawab Sumirah pendek.

“Buktinya mana? Sudah tiga bulan ini dia tidak nongol.”

“Kamu betul,“ Sumirah mengangguk.

Lantas malam itu orang-orang melihat Sumirah siap mau pergi dengan lelaki bermobil bagus. Kebetulan pada saat itu guru SD itu datang bersama kerabatnya untuk melamar Sumirah.

“Dia itu pelacur!” seru penduduk kala melihat kedatangan guru itu. Mendengar teriakan-teriakan mereka, guru muda dan kerabatnya terlongong-longong. Tidak sadar bahwa sebenarnya dialah yang diusir.

Komentar
Tambah Baru Cari
Tulis Komentar
Nama:
Email:
 
Web/Blog:
Judul:
 
Masukkan kode anti SPAM yang Anda lihat di gambar.

!joomlacomment 4.0 Copyright (C) 2009 Compojoom.com . All rights reserved."

Bookmark Artikel

Multi Bahasa

English Arabic French German Italian Portuguese Russian Spanish

Kontribusi Anda

Kami menerima artikel, berita, tips dan segala yang berkaitan dengan dunia buku, penerbitan, film, pendidikan, pengetahuan dan sejenisnya. Silakan melakukan registrasi dan kirim artikel Anda melalui form yang telah disediakan. Jangan lupa sebutkan sumber lengkap artikel yang berkaitan bila Anda mengambilnya dari sumber lain.

Ayo majukan dunia pendidikan dan buku di Indonesia. Terimakasih atas perhatian Anda.

Kami memiliki 3 Tamu online

Login Form