Jumat, Juli 30, 2010

Ibu Guru Muslimah “Laskar Pelangi”, Tak Ada Anak Didik yang Bandel

Film Laskar Pelangi menyabet penghargaan sebagai Film Terpuji pada Festival Film Bandung 2009 di Hotel Horison, Bandung, Jumat (24/4). Film yang disutradarai Riri Riza ini juga mengantar Cut Mini sebagai Pemeran Wanita Terpuji.

Cut Mini, dalam film tersebut memerankan sosok Ibu Muslimah yang dengan keteguhan serta dedikasi yang tinggi mengajar dan mendidik anak-anak bangsa yang tinggal di pedalaman. Jika para pemeran pada film Laskar Pelangi yang mendasarkan pada kisah nyata itu menyabet penghargaan, demikian pula dengan Ibu Muslimah.

Sebulan sebelumnya, pertengahan Maret lalu, Muslimah menyabet penghargaan pula dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Ia dinilai sebagai sosok guru yang dedikasinya begitu tinggi dan luar biasa meski hidup di daerah pedalaman.

“Ibu Muslimah dan Laskar Pelangi memberi contoh pada kita bahwa mendidik bukan sekadar mengajar, tapi juga sebuah proses pergumulan untuk mentransfer ilmu, mengajar, mendidik sampai pada membangun dan menjadikan manusia itu menjadi beradab dan berakal budi,” tegas Haedar Nasir, Ketua PP Muhammadiyah, baru-baru ini.

Kesahajaan, kesederhanaan, kemauan yang kuat serta keteguhan hati untuk mendidik anak bangsa agar menjadi orang yang cerdas dan berwatak mulia masih tampak dalam tutur kata serta raut wajah Muslimah yang kini berusia 55 tahun. Dengan nada merendah serta tak ingin dipuja-puji, ibu beranak tiga ini menyampaikan ucapan terima kasih atas penghargaan yang diberikan kepadanya.

“Penghargaan ini terlalu tinggi buat saya yang hanya orang desa. Saya juga sempat bertanya kenapa mesti saya yang harus menerima. Saya berpikir, penghargaan ini sebetulnya untuk guru-guru Muhammadiyah di sana (Gantung-red), hanya saja mungkin harus lewat saya,” tutur Muslimah yang menjadi guru SD Muhammadiyah Gantung (1973-1986).
Siang itu Muslimah—ketika menerima UMY Award—mengenakan kebaya setelan abu-abu yang dipadukan dengan selendang ulos dari Medan, oleh-oleh Andrea Hirata–mantan muridnya. “Warnanya sedikit nggak nyambung dengan baju saya, tapi tidak apa. Saya tidak tahan AC makanya membawa selendang ke mana-mana,” ujar Muslimah seraya tersenyum.

Muslimah pada kesempatan itu juga meminta agar para guru jangan cepat emosi ketika menghadapi anak yang bertingkah luar biasa. “Sebetulnya tidak ada anak yang bisa dikatakan bandel. Anak-anak ini sebenanya hanya memiliki kecerdasan yang berlebihan pada beberapa sisi yang kadangkala sering merepotkan dan membuat para guru menjadi emosi,” tuturnya.

Murid Cerdas

Sebagai contoh Muslimah mengungkapkan, tak jarang ada anak-anak di dalam kelas yang tak pernah diam. Anak-anak itu sering berjalan-jalan atau bahkan berlari-lari ketika pelajaran tengah berlangsung.

“Nah, anak-anak ini termasuk yang memiliki kecerdasan kinetetik,” tutur Muslimah yang kini menjadi guru di SD Negeri 6 Desa Gantung, Belitung Timur. Demikian pula jika menghadapi anak-anak yang suka bertanya. Anak-anak ini dalam pandangan Muslimah merupakan anak-anak yang diberi Allah sebuah kecerdasan verbal linguistik yang tinggi. Oleh karena itu wajib hukumnya bagi orangtua maupun guru untuk menjawab pertanyaan yang dilontarkan anak-anak yang termasuk kategori tersebut.

Walaupun dalam keadaan sibuk dan capek, pertanyaan si anak tersebut harus dijawab dengan santun pula,” ungkap peraih program pemberdayaan pendidikan dan ekonomi dari Medco Foundation tahun 2007 ini. Untuk menjadikan anak pandai, menurut Muslimah, peran orang tua justru lebih besar dibanding peran guru–meski banyak penelitian yang mengungkapkan bahwa anak bisa menjadi pandai lebih karena sentuhan guru. Dan sebagai guru maupun orang tua, sekarang ini tak bisa lepas untuk mengarahkan dan memotivasi anak menyongsong masa depan yang lebih baik. Sebab, sekarang ini kita tak bisa hanya mengandalkan pendidikan dari sekolah. Kini, anak selepas sekolah tak bisa lagi langsung mendapat pekerjaan seperti dulu, mengingat lapangan kerja yang makin sempit dan persaingan yang makin ketat.

“Oleh karena itu, kewajiban kita adalah memotivasi anak agar mengembangkan bakat dan kemampuannya sehingga selepas sekolah nanti bisa mendapatkan pekerjaan atau menciptakan lapangan kerja sendiri,” tambahnya.

Apa yang dilontarkan Muslimah ini setidaknya menjadi salah satu kunci untuk membenahi dunia pendidikan kita yang tengah mengalami peluruhan. Perlu ada upaya membangun dan membentuk karakter manusia Indonesia yang beradab serta berakal budi. Banyak pendapat, pendidikan saat ini hanya banyak menghasilkan manusia yang seperti robot.

Sinar Harapan: Sabtu 09. of Mei 2009

Komentar
Tambah Baru Cari
Tulis Komentar
Nama:
Email:
 
Web/Blog:
Judul:
 
Masukkan kode anti SPAM yang Anda lihat di gambar.

!joomlacomment 4.0 Copyright (C) 2009 Compojoom.com . All rights reserved."

Bookmark Artikel

Multi Bahasa

English Arabic French German Italian Portuguese Russian Spanish

Kontribusi Anda

Kami menerima artikel, berita, tips dan segala yang berkaitan dengan dunia buku, penerbitan, film, pendidikan, pengetahuan dan sejenisnya. Silakan melakukan registrasi dan kirim artikel Anda melalui form yang telah disediakan. Jangan lupa sebutkan sumber lengkap artikel yang berkaitan bila Anda mengambilnya dari sumber lain.

Ayo majukan dunia pendidikan dan buku di Indonesia. Terimakasih atas perhatian Anda.

Kami memiliki 6 Tamu online

Login Form