Jumat, Juli 30, 2010

Suka Duka Penerbit Alternatif

TIDAK selalu apa yang sudah digariskan merupakan pedoman yang mudah diikuti dan dilaksanakan di lapangan. Ada banyak persoalan yang muncul, yang sering datang tanpa diduga.

Itulah mengapa meski sudah didirikan semenjak tahun 2000, proses pengembangan dan pematangan organisasi tidak kunjung berhasil dengan tuntas karena persoalan-persoalan yang tidak saja bersifat teknis-operasional, melainkan tak jarang harus bersinggungan dengan soal paradigmatis. Bersifat paradigmatis karena bersentuhan dengan masalah mendasar realitas penerbitan buku di Indonesia. Masalah topik, pasar pembaca yang tidak sebanding dengan semangat untuk memublikasikan buku, dan sebagainya.

Averroes Press, sebagaimana juga penerbit alternatif (catatan: penerbit alternatif di sini merujuk pada pembedaaan yang umum dilakukan oleh teman-teman perbukuan, antara organisasi “penerbitan mapan” yang secara organisasional matang dan dengan dukungan finansial maupun permodalan yang lebih mencukupi, serta “penerbit gurem/alternatif” yang didirikan sekelompok anak muda yang berusaha mengambil topik-topik baru yang menarik, tetapi menerapkan manajemen usaha ala kadarnya, mengerjakan semua tugas organisasi tanpa adanya regulasi yang rigid) lainnya mengalami masalah dengan pemilihan topik, pengumpulan dan pengerjaan naskah, pembiayaan, pemasaran sampai evaluasinya.

Tetapi berbeda dengan penerbit yang didirikan tidak berada di bawah payung organisasi nirlaba (LSM), bisa jadi mereka akan lebih bebas menentukan topik yang ingin diangkat. Di Averroes Press, tak jarang perdebatan dilakukan dan sampai sekarang tak kujung usai mengenai tafsir “membangun wacana kritis rakyat”. Seringkali manajemen organisasi memberikan saran bahwa buku-buku yang kita gagas bukanlah buku yang ‘laku’ di pasaran, dan hanya bisa memenuhi permintaan sedikit sekali pasar. Namun di sisi lain, pihak redaksi tidak memiliki pilihan lain untuk tidak menerbitkan buku bersangkutan hanya karena (1) sulitnya mendapatkan naskah yang bisa diapresiasi positif oleh pasar dan memenuhi kriteria “membangun wacana kritis rakyat”, serta (2) masalah pembiayaan yang harus ditanggung. Dalam beberapa kasus, kita harus meminggirkan naskah-naskah yang oleh redaksi diyakini berkualitas, namun manajemen tidak memiliki kemampuan yang memadai untuk membiayai nasakah bersangkutan. Tetapi naskah dengan kategori yang ‘biasa-biasa’ saja akan bisa diterbitkan karena adanya bantuan pembiayaan dari pihak-pihak tertentu. Inilah kesulitan pertama Averroes Press menata sistem penerbitannya.

Masalah lainnya yang menyulitkan kita adalah soal sumberdaya manusia pendukungnya. Semenjak tahun 2000, sudah terjadi empat kali perubahan manajemen. Keempat-empatnya (dan yang kelima juga) dihadapkan persoalan yang sama sehingga sulit untuk melaksanakan tugas dengan baik. Selain permodalan, dan kemampuan handal SDM, masalah keorganisasian ini terus mengganjal selama empat tahun terakhir.

Karena itulah meski sudah ada beberapa judul yang dihasilkan, wacana aneka rupa yang disuguhkan, upaya menembus pasar dengan menggelar serangkaian kegiatan juga dilakukan, ternyata itu semua hanya buih di atas lautan. Inilah yang membuat penerbit alternatif, sebagaimana Averroes Press, tampak besar di mata, namun sesungguhnya rentan. Alasan utama yang mengemuka dalam berbagai evaluasi kami adalah minimnya dukungan modal. Meski dengan berbagai cara, lemahnya modal bisa di atasi sedikit demi sedikit.
Komentar
Tambah Baru Cari
Tulis Komentar
Nama:
Email:
 
Web/Blog:
Judul:
 
Masukkan kode anti SPAM yang Anda lihat di gambar.

!joomlacomment 4.0 Copyright (C) 2009 Compojoom.com . All rights reserved."

Bookmark Artikel

Multi Bahasa

English Arabic French German Italian Portuguese Russian Spanish

Kontribusi Anda

Kami menerima artikel, berita, tips dan segala yang berkaitan dengan dunia buku, penerbitan, film, pendidikan, pengetahuan dan sejenisnya. Silakan melakukan registrasi dan kirim artikel Anda melalui form yang telah disediakan. Jangan lupa sebutkan sumber lengkap artikel yang berkaitan bila Anda mengambilnya dari sumber lain.

Ayo majukan dunia pendidikan dan buku di Indonesia. Terimakasih atas perhatian Anda.

Kami memiliki 4 Tamu online

Login Form