Jumat, Juli 30, 2010

Ilusi Demokrasi

JIKA pembaca mulai mengakhiri membaca buku ini, maka ada dua perasaan sekaligus, dan bahkan mungkin lebih. Jika anda percaya bahwa demokrasi tidak menyelesaikan masalah dan bahkan sebagai sumber masalah itu sendiri, setidaknya anda merasa dibawa ke dalam ruang yang kosong alias hampa. Dan ke mana kita lantas pergi? Sebaliknya, jika anda merasa bahwa ungkapan-ungkapan di atas merupakan letupan-letupan emosional penulisnya belaka, yang sok kritikus, dan dengan demikian buku ini tidak membawa arti apa-apa dalam pemahaman dan perjuangan anda terhadap demokrasi, maka anda sudah pasti memiliki jalan yang ‘jelas’, yakni bahwa demokrasi dalam pengertian yang seperti ini, yang menindas dan memberikan kebebasan semu, tetap akan anda perjuangkan.

“kita akan menuju ke mana?”, merupakan pertanyaan penting, tapi dalam konteks ini tetap tak membutuhkan jawaban. Seandainya lantas muncul pertanyaan, “apa yang akan anda berikan selain demokrasi di masa-masa sulit ini?”, maka pertanyaan itu pun, hemat penulis dalam konteks ini, tidak memerlukan jawaban. Dalam rentang perjalanan hidup kita, terkadang justru ada yang lebih penting dari sekedar menjawab pertanyaan, yakni bagaimana menjawab sesuatu yang sudah dianggap sebagai sebuah jawaban. Meski hasil dari bagaimana menjawab itu sendiri bukan sebagai sebuah jawaban yang memuaskan, akan tetapi setidaknya kita pernah melakukannya.

Buku ini hadir hanya untuk memberikan ‘rasa’. ‘rasa’ terhadap demokrasi yang anda perjuangkan, juga rasa terhadap ‘anti-demokrasi’ yang anda kampanyekan. Tak akan pernah ada jawaban memuaskan di dunia ini, sehingga keliru besar manakala melihat demokrasi sebagai jawaban yang sungguh-sungguh memuaskan. Dan, buku ini hanya berharap bisa membawa kita pada rasa atas ‘sesuatu’ yang lain. Bukan untuk membela dan benar-benar antidemokrasi, bukan berharap lahirnya feodalisme baru, otoriterisme baru, kediktatoran baru, perbudakan baru, sosialisme baru, juga bukan kapitalisme baru. Hanya ‘rasa’ atas pemahaman kita terhadap segala sesuatu. Ini bukan romantisme kacangan, dan tentu juga bukan sikap pengecut, sebab ‘rasa’ yang lain itu juga sebagai sebuah pijakan dan prinsip.

Terutama dalam demokrasi, kita perlu mendapat ‘rasa’ yang lain, agar kita tidak senantiasa menderita berada dalam penjara ‘ilusi demokrasi’.

Saiful Arif (2004), “Ilusi Demokrasi” (188 hlm).
Komentar
Tambah Baru Cari
prasetyo   |125.167.72.xxx |H:i:s d-m-Y
kenapa demokrasi hanya di bilang ilusi padahal dem okrasilah yang membuat kita t
erbebas dari hutang h utang negara..........?
tolong kasih saran
Tulis Komentar
Nama:
Email:
 
Web/Blog:
Judul:
 
Masukkan kode anti SPAM yang Anda lihat di gambar.

!joomlacomment 4.0 Copyright (C) 2009 Compojoom.com . All rights reserved."

Bookmark Artikel

Multi Bahasa

English Arabic French German Italian Portuguese Russian Spanish

Kontribusi Anda

Kami menerima artikel, berita, tips dan segala yang berkaitan dengan dunia buku, penerbitan, film, pendidikan, pengetahuan dan sejenisnya. Silakan melakukan registrasi dan kirim artikel Anda melalui form yang telah disediakan. Jangan lupa sebutkan sumber lengkap artikel yang berkaitan bila Anda mengambilnya dari sumber lain.

Ayo majukan dunia pendidikan dan buku di Indonesia. Terimakasih atas perhatian Anda.

Kami memiliki 3 Tamu online

Login Form