SEJAK 2002, pemerintah telah menetapkan bahwa 17 Mei sebagai hari (baca) buku nasional. Tentu saja, kelahiran hari buku nasional itu bukan tanpa tujuan. Orientasi dasarnya ialah memajukan dan merangsang minat masyarakat, terutama yang usia sekolah, agar doyan membaca.
Dengan membaca itulah, diharapkan adanya setitik pencerahan pengetahuan di dalam benak mereka. Membaca merupakan pangkal pengetahuan yang luas bagi manusia untuk membebaskan diri dari jebakan kemiskinan, kebodohan, dan kesengsaraan.
Terkait keunggulan minat membaca itu, banyak cerita bijak yang dapat kita munculkan di sini. Mantan Presiden Habibie, misalnya, pernah berkata, ''Untuk menjadi pintar, jangan terlalu banyak tidur. Tapi, perbanyaklah membaca.'' Sebab, dalam sejarahnya belum pernah ada orang pintar karena banyak tidur. Jadi, tidak heran jika setiap hari Habibie hanya tidur kurang lebih 4 jam.
Seorang sastrawan terkemuka Pramodya Ananta Tour pernah ''menangis'' karena banyak bukunya yang hilang karena represivitas kekuasaan. Pada era Orba dulu, buku (terutama buku kritis dan berbau politis) itu dianggap ''musuh'' negara. Karena itu, banyak buku Pram diberangus karena dinilai tidak layak dibaca dan dikonsumsi publik.
Ironisnya lagi, banyak penerbit yang tidak diberikan izin penerbitan karena dianggap berbagai buku terbitannya itu tidak mendukung kepentingan ekonomi-politik Orba. Maka, tak heran jika hasil riset UNESCO menunjukkan bahwa negeri kita pada 1970-1990-an mengalami paceklik buku.
Itulah yang membuat geram Pram -sapaan akrab Pramoedya. Sebab, bagi Pram, ''Lebih baik kehilangan rumah daripada kehilangan buku. Karena, dengan buku itu, saya bisa mendapatkan rumah baru.
***
Fakta di atas adalah salah satu contoh tentang pentingnya membaca. Entah itu membaca buku ataupun bacaan lainnya, seperti koran, jurnal, dan novel. Tentu saja, minat membaca itu akan mengalami kemandekan dan berjalan di tempat jika tidak ada perhatian serius dari pemegang tampuk kekuasaan.
Kini rezim Orba sudah tumbang. Era reformasi dan demokrasi pun bangkit ke permukaan. Sudah banyak penerbit bermunculan secara legal. Sudah banyak pula berbagai macam buku diedarkan ke pasaran. Lihat saja Jogjakarta, misalnya. Ada puluhan bahkan mungkin ratusan penerbit di sana.
Karena itu, berbagai macam buku dan karya sastra, baik itu terjemahan maupun asli, terbitan zaman dulu hingga sekarang bisa ditemukan di Jogja. Terkadang, buku yang tidak ada di kota besar lainnya (seperti Surabaya, Jakarta, dan Semarang) justru bisa didapatkan di Jogja.
Sayang, sarana pendukung di atas tidak selalu berbanding lurus dengan daya dan minat baca masyarakat. Daya dan minat baca masyarakat kita tergolong rendah. Berdasar hasil riset World Bank dan IEA (International Association for the Evaluation of Education Achievement) beberapa waktu lalu menunjukkan bahwa peringkat kebiasaan membaca anak-anak Indonesia paling ''buncit'' jika dibandingkan dengan negara Asia yang lain.
Indonesia hanya mendapatkan skor 51,7. Angka itu masih kalah jauh dari Filipina (52,6), Thailand (65,1), Singapura (75,0), dan Tiongkok (75,5). Selain itu, kemampuan membaca rata-rata para siswa SD dan SMP di Indonesia menduduki urutan ke-38 dan ke-34 dari 39 negara. Sungguh ironis bukan?
Persoalan rendahnya minat baca masyarakat kita itu sangat mungkin disebabkan derasnya arus komoditas televisi. Berdasar hasil riset peneliti perkembangan anak dari Harvard, Dr Berry Brazelton, menunjukkan bahwa anak yang melebihi batas tontonan televisi dapat membuat daya nalar dan ide kritisnya lumpuh. Akibatnya, banyak anak yang lebih senang duduk di depan televisi daripada membaca koran dan buku pelajaran yang membutuhkan daya talar.
Tragisnya, tayangan televisi pun ampuh guna mendorong daya konsumtif anak-anak. Tengok saja perkembangan anak-anak sekolah di negeri kita pada zaman sekarang. Mereka lebih senang memamerkan HP terbaru daripada membanggakan buku pelajaran terkini yang dimilikinya. Bahkan, siswi sekolah kita saat ini lebih pintar menghiasi wajahnya dengan produk kosmetik daripada membuat lukisan yang indah di atas kanvas.
Hal itu yang membuat kompetisi dalam pendidikan kita justru bukan lagi tentang adu otak dan kemampuan skill edukasi, tapi bergeser ke ajang persaingan adu kemampuan memiliki barang-barang konsumtif dan gengsi libido ekonomis. Situasi seperti ini jelas perlu kontrol sosial (guru dan orang tua) agar pendidikan kita tak keluar dari esensi dasarnya: memanusiawikan manusia.
Penyebab lain yang terkadang dianggap remeh, tapi tak bisa diabaikan begitu saja adalah penerbitan buku itu sendiri. Saat ini banyak sekali buku beredar, namun tidak semua buku itu memiliki kualitas prima. Sebab, tidak sedikit buku yang telah lolos seleksi penerbit karena pertimbangan profit. Penulis yang berani membayar mahal (terutama mereka yang obsesif mendapatkan kredit poin dari membuat buku) kepada penerbit, naskahnya pasti diterbitkan.
Kondisi seperti itu jelas merugikan pembaca. Sebab, terkadang materinya tidak memiliki makna transformatif. Sedangkan naskah yang bagus dan memiliki sisi transformatif bagi pembaca justru diabaikan karena penulisnya tidak sanggup membayar ongkos penerbitan.
Krisis sistem penerbitan buku seperti ini ke dapan tentu perlu ada koreksi dan perbaikan. Itu penting agar masyarakat menjadi doyan membaca karena di buku itu selalu ada sesuatu yang baru.
Selamat merayakan hari buku nasional. Selamat membaca, kawan!
sumber: Jawa Pos, Sabtu, 16 Mei 2009
*).Ardhie Raditya MA, alumnus UGM, dosen sosiologi FIS-Unesa.
Seumber gambar: http://presidenbriket.files.wordpress.com/2009/04/tumpukan-buku.jpg
| Komentar |
|
!joomlacomment 4.0 Copyright (C) 2009 Compojoom.com . All rights reserved."
Kontribusi Anda
Kami menerima artikel, berita, tips dan segala yang berkaitan dengan dunia buku, penerbitan, film, pendidikan, pengetahuan dan sejenisnya. Silakan melakukan registrasi dan kirim artikel Anda melalui form yang telah disediakan. Jangan lupa sebutkan sumber lengkap artikel yang berkaitan bila Anda mengambilnya dari sumber lain.
Ayo majukan dunia pendidikan dan buku di Indonesia. Terimakasih atas perhatian Anda.
Newsletter
Daftarkan email Anda untuk mendapatkan berita, informasi dan artikel terbaru dari www.averroespress.net. Klik link berikut ini.












"LAWAS"
tugas utama jurnalis adalah mendorong realisasi Indonesia Merdeka serta menga...
lipstik. CSR berfungsi sebagai lipstik korporasi agar tampak lebih cantik dan...
adanya politik kartel dan kartel politik menandakan sistem politik kita sedan...
gw pernah nonton film ini tapi jujur gw kurang suka karna ini adalah film dra...