SEKARANG umat beragama di Indonesia sedang dihadapkan pada tantangan sering munculnya benturan-benturan atau konflik di antar umat beragama. Kita tentunya masih ingat dengan adalah konflik antar umat beragama di Poso, Ambon dan sejumlah tempat lainnya.
Seringnya terjadi konflik antar agama di Indonesia, kiranya menjadi pelajaran bagi kita bersama. Potensi-potensi konflik semacam ini riskan terjadi mana-mana. Munculnya konflik-konflik agama di samping karena faktor politik dan ekonomi, juga disebabkan adanya interpretasi terhadap teks-teks kitab suci sebagai acuan masyarakat telah direduksi pada kepentingan dan reduksi ideologis bagi pembentukan sebuah masyarakat. Lewat klaim absolut, akhirnya interpretasi teks-teks suci dianggap sebagai satu-satunya kebenaran mutlak, sehingga pada gilirannya corak pemikiran keagamaan yang demikian itu akan dengan mudah memperoleh legitimasi diri dan menganggap golongannya sendiri yang paling benar dan yang lain salah. Bahkan lebih dari itu, segala sesuatu yang tidak sepaham atau sealiran dianggap sebagai musuh.
Akhir-akhir ini kita juga sering mendengar kata-kata sesat yang muncul dari kalangan mayoritas. Kata sesat biasanya hanya digunakan untuk memberikan justifikasi kepada aliran-aliran agama yang dikira menyimpang dari ajaran Islam. Di Malang ada kasus Yusman Roy, Kyai Toha, Shafaatus Sholawat dan masih banyak lagi. Ahmadiyah juga merupakan sebuah aliran yang dianggap sebagai aliran sesat. Betapa naifnya negara kita hingga bisa memproduksi banyak sekali terminologi sesat untuk kelompok-kelompok tertentu.
Beberapa konflik yang terjadi di Indonesia disebabkan oleh kesadaran umat beragama yang cenderung eksklusif. Pemahaman agama yang seperti ini mendorong umat beragama lebih memandang agamanya sebagai agama yang paling benar. Sehingga muncul terminologi agama kami dan agama mereka muncul dalam diskursus keagamaan. Kalau demikian halnya antar agama satu dengan yang lainnya akan berebut kebenaran dan saling menyesatkan.
Keberagamaan eksklusif ini membuat pemeluknya memiliki kecurigaan terhadap orang di luar agamanya. Ada semacam kecemasan yang menghinggapi ketika agama lain mendapat simpati. Reaksi emosional terkadang berwujud dalam makian dan hasutan pada saat digelar pengajian dan tabligh akbar. Kecurigaan dan kegeraman yang tertanam di alam bawah sadar ini pada titik kulminasinya akan berbentuk konflik dan kekerasan atas nama agama.
Sebagai negara yang memiliki penduduk mayoritas muslim, Indonesia tidak bisa lepas dari belenggu fundamentalisme dan radikalisme agama. Perkembangan pemikiran fundamentalisme di Indonesia semakin menjadi-jadi. Ini bisa dilihat dari banyaknya isu-isu terorisme yang belakangan ini kerap muncul menghiasi media massa di Indonesia. Bahkan beberapa nama seperti Imam Samudra, Hambali, M. Muhlas, Ashari Abu Bakar Ba’asyir dan sederetan nama lainnya dianggap sebagi biang kerok teror yang terjadi di Indonesia belakangan ini.
Perilaku yang dilakukan oleh beberapa kelompok di atas merupakan tindakan yang bisa kita golongkan dalam tindakan radikal. Perilaku seperti itu bisa disebabkan oleh pemahaman agama yang cenderung tekstual. Atau bisa juga disebabkan oleh pemahaman teologi yang terlalu eksklusif, sehingga apa yang berada di luar agamanya adalah yang harus dimusuhi. Berangkat dari pemahaman seperti inilah fenomena terorisme berkembang di Indonesia.
Cita-cita untuk mendirikan negara Islam juga menjadi motif yang besar dalam tindak kekerasan yang terjadi selama ini. Kelompok-kelompok radikal beranggapan bahwa carut-marut negara ini hanya bisa diselesaikan dengan mengganti syari’at Islam sebagai dasar negara. Pancasila sebagai dasar negara sudah tidak mampu lagi menjawab tantangan zaman. Dalam pandangan kelompok ini keberadaan Pancasila justru akan memberikan kebebasan kepada kelompok-kelompok lain berkembang di Indonesia. Maka dari itu mereka beranggapan bahwa dengan sistem Daulah seperti yang ada pada zaman nabi, maka segala permasalahan yang terjadi di Indonesia akan dengan mudah diselesaikan.
Belakangan ini sikap toleransi yang selama ini menjadi pengikat bangsa indonesia mulai lumpuh. Konflik yang mengatasnamakan agama semakin santer terjadi di beberapa daerah. Penyesatan kelompok lain dengan mengatasnamakan agama menjadi cukup sensi untuk diperjuangkan. Sementara kelompok-kelompok minoritas yang menjadi obyek penyesatan posisinya semakin terpinggirkan. Bahkan yang lebih naif lagi kelompok-kelompok ini semakin hilang dari peredaran.
* Petikan dari tulisan Edi Purwanto di Buku Agama dan Demokrasi (November, 2008)
Data Buku
Judul: Agama dan Demokrasi
Penulis: Any Rufaidah, Levi Riansyah dan Edi Purwanti
Penyunting: Any Rufaidah
Desain dan Layout: Wahyu
Harga: Rp. 20.000,-
Tahun: November 2008
Penerbit: Averroes Press
| Komentar |
|
!joomlacomment 4.0 Copyright (C) 2009 Compojoom.com . All rights reserved."
Komentar Terbaru
Kontribusi Anda
Kami menerima artikel, berita, tips dan segala yang berkaitan dengan dunia buku, penerbitan, film, pendidikan, pengetahuan dan sejenisnya. Silakan melakukan registrasi dan kirim artikel Anda melalui form yang telah disediakan. Jangan lupa sebutkan sumber lengkap artikel yang berkaitan bila Anda mengambilnya dari sumber lain.
Ayo majukan dunia pendidikan dan buku di Indonesia. Terimakasih atas perhatian Anda.
Newsletter
Daftarkan email Anda untuk mendapatkan berita, informasi dan artikel terbaru dari www.averroespress.net. Klik link berikut ini.











buku ini sulit sekali dicari.. bs pesan tdk?
pemilu memang bukanlah satu-satunya cara untuk mensukseskan demokrasi tapi me...
salam sejatera saya butuh informasinya bapak Solichin Abdul Wahab ,apakah bap...
boleh nimbrung...ya salam hangat. menanggapi pesan tulisan p' Farid Gaban ya...
Dengan hormat, apakah buku-buku diktat untuk siswa RSBI sudah ada yg dlm bent...